PANGGUNG SANDIWARA

Sebenarnya, sejak kelas 1 SMA (1996), aku sudah beberapa kali main ke pengadilan. Pengadilan Negeri Surabaya. Jalan Arjuno. Seorang diri. Atas inisiatif sendiri.

Waktu itu aku masih awal2 aktif di teater. Masih semangat2nya nonton teater, tp pertunjukan teater di surabaya sangat jarang. Kalaupun ada, kebanyakan berbayar. Satu2nya tempat yg menggelar pertunjukan yg mirip2 pertunjukan teater, ada setiap hari, dan gratis, aku pikir cuma ini: pengadilan! 

Itulah alasan pertama kali aku menginjakkan kaki di pengadilan. Di sana ada beberapa ruang sidang.


Mirip studio2 di bioskop 21. Masing2 ruang punya nama ruang sendiri2. Cakra, Kartika, Chandra, Tirta, dan Sari. Di dalam ruang sidang itu, ada beberapa baris tempat duduk pengunjung. Ruang cakra adalah ruang yg paling besar, tempat duduknya mirip tempat duduk di bioskop. Di ruang sidang yg lain tempat duduknya hanya berupa kursi kayu panjang yang menghadap "panggung" pertunjukan. Antara kursi pengunjung dan "panggung", diberi pembatas berupa pagar kayu setinggi pinggang.

Tempat duduk itu seluruhnya menghadap "panggung" yg set-nya terdiri dari meja hakim, penuntut umum, penasehat hukum, dan kursi terdakwa.  Level panggung untuk meja hakim lebih tinggi dari meja2 yg lain. Kursinya juga lebih tinggi dan besar. Di belakang meja hakim ada lambang garuda. Kanan kiri meja hakim ada bendera merah putih, dan bendera hijau. Di atas meja hakim yg dilapisi kain hijau terdapat palu kayu. Di mataku, itu adalah penataan set properti yg sangat teaterikal: seimbang, sadar blocking, dan surealis.

3 jam jam duduk di ruang cakra itu, aku menikmati beberapa lakon pertunjukan sekaligus. Sejujurnya aku tidak mengerti tentang apa lakon2 yg sedang dimainkan. Tapi ekspektasiku untuk bisa melihat pertunjukan teater terpenuhi, karena persidangan ternyata benar2 teaterikal di mataku; ada karakter antagonis, dan protagonis, dengan dialog yg kadang saling menyerang dan menerkam.

Beberapa karakter menggunakan kostum berjubah, dan ada yg berompi orange dengan tangan terborgol. Kalau saja dikasih efek lighting dan sound effect setiap kali hakim menjatuhkan putusan atau ketika terdakwa merengek2 minta keringanan hukuman. Ah.. ini adalah pertunjukan teater yang sempurna. 

Berpuluh tahun kemudian, tiba2 aku mendapat peran salah satu karakter berjubah merah pada pertunjukan yg teaterikal itu. Awal2 aku memerankan karakter berjubah itu, aku merasa benar2 sedang memainkan sebuah karakter di sebuah panggung teater yang ditonton pengunjung sidang. Sensasinya mirip dengan bermain teater. 

Tapi lama kelamaan, aku menyadari bahwa panggung teater sesungguhnya justru ada di balik pagar kayu pembatas kursi pengunjung itu. Satu per satu aku perhatikan pengunjung, kulihat mereka juga sedang memainkan karakter dan ekspresi yang berbeda2 dengan kostum yang berbeda2 pula. Dengan kepentingan yang berbeda2 pula.

Jauh di luar sana, drama2 yang jauh lebih teaterikal juga terjadi setiap hari. Lebih dramatik. Yang kuat menginjak yang lemah, yang lemah hanya bisa mengeluh lalu mengumpat. Yang berkuasa semakin buas menguatkan barisan, yang jelata teromba2ing sekedar untuk bertahan hidup. Yang kaya sibuk menguras bumi, yang miskin rutin mengekang dahaga.

Semua drama yang ada di ruang sidang, semua bermula dari drama yang terjadi di luar sana.

Ah, dunia ini memang panggung sandiwara...

.

 

Komentar