Enam Puluh Bulan Di Sini

Hari ini, tepat 60 bulan yang lalu, adalah hari pertama saya resmi berstatus sebagai lawyer profesional di sebuah kantor pengacara terbaik, bergengsi dan terkemuka. Setidak2nya se-kecamatan genteng...

Sebagai orang baru, saat itu saya tidak memiliki harapan yg tidak muluk2. Mengalir saja. Apalagi, saya tahu, yg dikerjakan di kantor ini jauh berbeda dgn yg saya lakukan di kantor saya yg lama.

Hari demi hari saya jalani. Saya bersukur seperti mendapat banyak kemudahan di sini. Lingkungan, iklim, dan fasilitas yg ada di sini membuat nyaris semua terasa mudah.

Tiap tahun punya tantangan dan cerita sendiri2.

Tahun pertama adalah tahun adaptasi dan transisi buat saya. Rute baru, meja baru, teman baru, tugas baru, dan... ekhem, gaji baru.

Tahun kedua adalah tahun tantangan. Di tahun ini saya merasa ditantang untuk menangani pekerjaan2 yg benar2 asing buat saya. Di situ saya sempat berpikir, "nekat bener nih kantor kasih kerjaan ginian ke saya...".

Tahun ketiga adalah tahun pencolotan. Tahun di mana harus bisa men-switch otak dgn cepat dari perkara perceraian jadi perkara ketenagakerjaan. Dari yayasan ke saham. Dari dari koperasi ke tambang. Dari pengadilan agama ke arbitrase. Semua numpuk jadi satu di dalam kepala ini.

Tahun keempat adalah tahun sibuk. Entah kebetulan entah tidak, beberapa orang resign. Ini membuat ritme kerja terganggu. Volume pekerjaan sebenarnya menurun, tapi karena tenaga yg berkurang, membuat beban pekerjaan tetap terasa berat. Podo ae...

Tahun kelima adalah tahun kelayapan, tahun di mana saya harus berpetualang dari bandara ke bandara, dari kota ke kota, dari provinsi ke provinsi lain, dari pulau ke pulau lain.

Saya tidak tahu akan bagaimana tahun tahun2 selanjutnya. Akan lebih baik, sama saja, lebih buruk, atau entah bagaimana. Masih jadi misteri...




---

Terus terang, terkadang saya merasa "terjebak" dgn rutinitas penanganan perkara yg nyaris tidak pernah selesai. Akibatnya, he.. he.., tesis saya terbengkelai. #alasan

Aneh ya... kerja di lawfirm tapi rutinitas menangani perkara kok dibilang terjebak.

Maksud saya begini. Semakin ke sini saya merasa kita kehilangan ambisi dan gairah untuk jadi corporate lawfirm terkemuka seperti yg pernah founding fathers kantor ini idam2kan. Kita seperti sudah cukup puas dgn menangani perkara2 yg datang secara sporadis.

Sebagai pegawai yg baik, perkara apapun, saya sih hayuk aja. Mau berat, mau ringan, mau sedang, mau perceraian, mau korporasi, tidak ada bedanya buat saya. Semua tetap harus dikerjakan. Toh gaji sama saja dikerjakan bareng2.

Tapi saya merasa kantor ini punya potensi yg juwarang (jarang sekali maksudnya) dimiliki lawfirm manapun: SDM, jam terbang, jaringan, dll. Dengan potensi itu, kita bisa berkali2 lebih hebat dari kita hari ini. Harusnya...

Misalnya lebih selektif memilih perkara, manajemen organisasi & keuangan yg lebih solid, jaringan dan marketing yg lebih mapan, dll, yg pada akhirnya, he... he..., kesejahteraan lawyer dan karyawan lebih meningkat. Kita senang, istri bahagia... :)

Saya tidak tahu caranya bagaimana. Tapi masak iya kalau semua SDM duduk bersama dan mencurahkan energi untuk kemajuan kantor, tidak ditemukan solusinya?

Kecuali...

Kecuali...

Kecuali... 


Jika kita memang sudah nyaman dengan apa yg ada saat ini.

---

Sejujurnya, selama ini loyalitas saya kepada kantor ini biasa2 saja. Niat untuk membesarkan kantor juga gak tinggi amat. Karena bagi saya, yg terpenting adalah gaji (termasuk bonus) lancar. Jadi selama itu lancar, sebenarnya saya bisa memaklumi kondisi kantor bagaimana pun juga.

Tapi tidak tau kenapa... terkadang hati kecil merindukan sesuatu yg lebih...

......



Komentar