Angkot Melawan Jaman

Selama 3tahun, nyaris setiap hari, aku adalah pengguna setia kereta api. Dari rumah ke kantor, dan sebaliknya. Aku menikmati betul petualangan itu, meski setiap hari harus berangkat kepagian, pulang kemalaman, dan setiap pagi harus jalan kaki beberapa kilo dari stasiun ke kantor.

Sejujurnya, petualangan itu bukanlah misi untuk melawan polusi, kemacetan, individualisme atau yg heroik2 macam itu. Sama sekali bukan. Ini semata2 karena aku gak punya kendaraan yang nyaman untuk menempuh perjalanan sejauh perjalanan rumah ke kantor, dan sebaliknya. Tapi terkadang, untuk menghibur diri, aku pura2 begitu biar kelihatan mbois

Tanggal 23 Februari, adalah hari terakhir aku naik kereta ke kantor, karena besoknya aku tak lagi ngantor di alamat yang itu. Kantor baru persis di depan rel kereta. Tapi apalah arti dekat rel kereta, jika jauh dari stasiun? Aku bukan-lah orang penting yang bisa meminta masinis untuk tiba2 menghentikan kereta di tengah jalan. Aku juga bukan orang sakti, yang bisa melompat ke dalam kereta yang sedang berjalan tanpa gegar otak.


Kini aku harus memulai petualangan yg baru. Petualangan meniti perjalanan ke kantor, dan balik dari kantor. Secara jarak sih, jauh berkurang dari kantor yang lama. Secara akses, hanya minus kereta yang tidak aksessable. Naik kendaraan sendiri, masih seperti yang dulu: belum punya. Akhirnya, pilihannya jatuh pada angkot. Angkot kuning. Hanya angkutan inilah yg paling rasional untuk diandalkan.



Angkutan umum yg puluhan tahun tak terjamah kehidupan modern itu, ternyata masih jadi andalan bagi: emak2 40tahun ke atas, anak sekolahan, karyawan pabrik, dan kini: seorang oknum pengacara. Angkot2 itu bertarung melawan jaman dgn kepercayaan diri yg tinggi, seolah2 dunia masih membutuhkannya.

Setelah beberapa hari bergumul dgn angkot kuning, aku jadi tahu perasaan jutaan orang kenapa lebih memilih kredit motor, atau naik ojek online dari pada setia terombang2ing dalam angkot yg ngegas dan ngerem, nganan dan ngiri, bahkan mundur, sak karepe dewe..

Aku coba untuk menghibur diri, bahwa itu adalah ekspresi tekanan batin para driver angkot yang dihantam kebutuhan hidup dan bayar setoran. Hanya itu cara yang bisa mereka lakukan untuk mencari penumpang sebanyak mungkin dan secepat mungkin, agar mereka bisa menghantam balik kebutuhan hidup dan setoran.

Memaksa mereka untuk berpindah genre yang belum tentu cocok buat mereka, bukanlah solusi. Onlenisasi para sopir angkot hanyalah ide putus asa, seputus asa para driver angkot melihat sepinya penumpang. Lebih baik, mulailah belajar naik angkot sesering mungkin tanpa berharap yg macam2. Nikmati saja getar2ir-nya, tanpa mengeluh dan tanpa syarat. Hanya itu solusi buat para driver. Daripada menghujat, tapi naik aja gak pernah...


Komentar