Menunggu 10 tahun

10 tahun itu lama. Bayangkan: 12 bulan dikalikan 10 kali. 120 bulan. Kalau didetailkan lagi, itu setara dgn berjuta2 menit.  Telah banyak yg terjadi pada bangsa ini dalam rentang waktu segitu. Ketua PSSI, misalnya, telah berganti beberapa kali. Tapi untuk urusan prestasi, 10tahun seperti tidak berarti apa2 untuk PSSI. Prestasi timnas tetap begitu2 saja.

.
Tapi ini bukan tentang PSSI. Ini tentang menunggu. Selama 10 tahun.
.

10 tahun yg lalu anakku lahir. Di Malang. Kini ia sudah bisa browsing dan download game di playstore sendiri. Bahasa jawanya sudah lancar. Suroboyoan. Sudah tak bisa bonceng duduk depan. Kepalanya sudah menutup hidungku. Nyaris menutup mataku.
.
Setelah anakku lahir, 10 tahun yg lalu, aku mengira tidak lama lagi istriku akan hamil lagi. Punya anak lagi. Mungkin 2 kali lg. Atau setidaknya 1 kali lg. Aku kira semudah itu. Istriku juga mengira begitu. Ternyata: "tidak semudah itu, Ferguso"
.
Setahun dua tahun aku menanti kehamilan istriku. Tak kunjung terjadi. Orang2 mulai protes, mengapa anak kedua tak juga datang. Dikiranya aku menahan2, atau tidak menginginkan. Atau dikira, aku tak pernah ngapain2 dengan istriku.
.
Helloooww..
.
Jelas-lah aku ngapa2in dengan istriku. Emang bisa suami istri baring seranjang cuman ngobrol tentang perkawinannya maia estianty atau pilpres, lalu tidur begitu saja?
.
Tiga tahun empat tahun, aku berusaha optimis. Dan terus berharap. Diam2, aku terus pantau siklus biologis istriku. Kapan dia beli pembalut. Kapan dia libur sholat. Kapan dia lebih sensitif. Marah tanpa alasan. Berharap2 cemas mendengar kabar ini: telat menstruasi. Tapi tak juga terjadi. Siklus itu tak pernah terlambat sehari pun. Setiap siklus itu datang, aku berusaha menghibur diri: "ah, mungkin bulan depan"
.
Lima tahun hingga sembilan tahun, aku mulai menata diri. Menyiapkan diri untuk mengahadapi kenyataan akan menjadi orang tua beranak tunggal. Memasrahkan diri. Apalagi usia terus bertambah. Mau tak mau, aku harus belajar untuk tak lagi terobsesi. Toh punya anak satu, tidak buruk.
.
Tahun kesepuluh, tetap seperti tahun2 sebelumnya, tapi lebih mengalir. Tak terbebani. Aktivitas biologis masih normal2 saja. Pola makan pun biasa2 saja. Tak ada upaya yg luar bisa seperti konsumsi obat tertentu, konsultasi ke dokter, apalagi ikut program bayi tabung.
.
Sampai suatu ketika, aku merasa sudah cukup lama istriku tidak libur sholat. Biasanya setiap akhir bulan, dia mesti libur sholat. Selama 1 mingguan. Kali ini tidak. Kulihat dia tetap sholat meski sudah lewat akhir bulan.
.
"Kok kamu masih sholat?" kataku setelah dia baru selesai sholat maghrib.
.
"Kenapa emang" jawabnya, pura2 gak mengerti maksudku.
.
Malam2, diam2 dia beli test pack di apotik samping pos satpam. Dia tak langsung gunakan test pack itu, karena menurut petunjuk penggunaannya, test pack harus digunakan pada pagi hari setelah bangun tidur. 
.
Aku biasa bangun pagi. Jam 4 pagi biasanya aku sdh bangun, sholat subuh di musholah perumahan. Tapi pagi itu, 2 Desember 2018, karena kecapekaan menguras kolam, jam 4 aku belum bangun. Aku baru terbangun setelah dia tiba2 memukul2 kakiku. Kira2 jam setengah 5.
.
"Bapak, positif!" teriaknya, sambil berbisik kegirangan. Kalau saja hari itu tidak ada keluarga yg menginap di rumah, dia pasti akan teriak beneran. Bukan teriak berbisik.
.
Aku tak langsung mengerti apa maksudnya, karena belum penuh nyawaku. Beberapa saat kemudian, aku baru nyambung.
.
"Ah yg benar?" tanyaku.
.
"Nih" jawabnya sambil menunjuk ujung test pack.
.
Aku tersenyum. Senyum lega. Meski aku tak benar2 melihatnya, aku yakin memang positif. Sudah lama aku menunggu kabar itu. 10 tahun. Semoga tetap positif hingga melahirkan.
.
Kini, aku harus mulai belajar dan mengingat2 kembali bagaimana caranya jadi suami siaga. Siap antar jaga. Dulu aku sudah pernah mahir. 10 tahun yg lalu. Mestinya kali ini juga bisa. Aku bisa2 kan.
.

Komentar