16,5 jam, 6 Tahun Yang Lalu

Waktu itu, dokter sudah memprediksi kalo istriku akan melahirkan tanggal 23 april, tapi dokter berjilbab cokelat itu tidak bilang melahirkan jam berapa. Itupun, katanya, prediksi itu bisa meleset 1 minggu sebelum atau 1 minggu sesudahnya.

Tanggal 23 april jam 4.30 pagi, istriku membangunkanku. Dia mengeluh sakit di perutnya. Aku tidak terlalu terkejut, karena sesuai prediksi dokter berjilbab coklat memang hari itu istriku akan melahirkan. Tapi tidak lama, istriku bilang sudah tidak sakit lagi. Tidak lama, sakit lagi, lalu tidak sakit lagi. Begitu terus, sampai kemudian jam 5.15 aku putuskan untuk segera ke rumah sakit bersalin yg sudah aku survey beberapa hari sebelumnya.

Ada beberapa rumah sakit, dokter kandungan dan bidan yg telah aku survey. Kriterianya sederhana saja: dokternya harus perempuan. Begitu permintaan istriku. Aku cuman menambah 2 kriteria lagi, yaitu: dekat dan terjangkau.

Harus dekat karena, kau tau, istriku gak bisa naik mobil. Jadi aku harus cari yg kira2 bisa dijangkau sama becak. Atau kalo-pun harus naik mobil, gak perlu berlama2 di dalam mobil.

Harus terjangkau, karena waktu itu - meskipun saat ini juga belum- aku belum terlalu sejahtera.

Ada sebuah klinik bersalin di dekat rumahku (baca: kontrakan). Pasiennya cukup banyak. Biayanya pun rasional. Tapi ada satu kriteria yg tidak bisa dipenuhi: dokternya kebanyakan laki2.

Aku coba membujuk istriku agar mau melahirkan di situ saja, toh banyak pasien yg melahirkan di klinik itu, dan gak pernah ada masalah. Dia tetap tidak mau. Semakin dirayu, semakin tidak mau.

Aku juga pernah survey rumah praktek bidan, sekalian periksa kandungan. Bidannya, tentu saja, perempuan. Ruang prakteknya juga bersih. Biayanya murah. Kayaknya ini cocok.

"Tapi" kata bu bidan itu, "pagi jam 8 sampai jam 3 sore saya kerja di rumah sakit. Tapi tenang saja, nanti ibu akan ditemani asisten saya di sini"

Aku hanya manggut2. Istriku juga manggut2. Tapi dalam hati, kita sama2 nggak tenang dgn penjelasan bu bidan itu. Aku nggak bisa bayangkan gimana kalo istriku ternyata melahirkan jam 10 pagi. Masak istriku harus menunggu 5 jam sampai si bidan pulang kerja, atau tetap melahirkan dgn  ditangani asisten bidan, yg aku gak tau dia lulus SMP atau tidak.

Akhirnya aku pamit baik2, dan sejak itu aku gak pernah kembali ke bidan itu sampai hari ini.

Aku datangi juga rumah sakit bersalin mewah di tengah kota. Walaupun pesimis, aku tetap datangi rumah sakit itu, yg aku tahu harganya pasti mahal. Kali aja ada kelas/paket yg bisa aku jangkau, pikirku.

Begitu masuk aku disodori brosur yg isinya daftar tarif dan fasilitas2nya. Kalau kelas yg paling atas jelas kemahalan, trus kulihat kelas yg paling rendah, eh...tetap kemahalan.

RSIA Puri Bunda
Di saat2 terakhir aku seperti diberikan petunjuk, kutemukan rumah sakit bersalin yang paling cocok. RSIA Puri Bunda, namanya. Semua dokter dan perawatnya perempuan, dekat, dan terjangkau. Klop!

Katanya ini rumah sakit bersalin baru. Katanya juga, pelayanannya bagus. Mungkin justru karena baru, pelayanannya masih bagus. Akhirnya kuputuskan, rumah sakit bersalin inilah pemenangnya.

Dengan naik motor, kuantar istriku pergi rumah sakit bersalin itu. Istriku merintih kesakitan, aku hanya berharap jangan sampai mbobot (melahirkan) di atas motor.

Sampai di rumah sakit, dia diperiksa oleh dokter (perempuan). Istriku berbaring di ranjang dgn posisi siap melahirkan. Beberapa kali dia menjerit kesakitan, aku hanya terdiam di sampingnya.

Di situ aku baru tahu, kenapa dia selalu ngotot minta dokternya harus perempuan.

"Bu" kata dokter itu kepada istriku, "ini baru pembukaan 2. Kira2 7 jam lg baru bisa melahirkan. Ibu bisa menunggu di sini atau pulang dulu"

Aku memilih pulang saja. "Kita pulang aja, ntar kita kesini lagi" kataku pada istriku.

Dalam perjalanan pulang, belum nyampai rumah, istriku minta diantar ke lapangan Rampal. Dia mau jalan2, seperti biasanya.

Beberapa hari sebelumnya,  istriku hampir setiap hari ke lapangan Rampal, berjalan di atas rumput berembun lapangan bola itu hingga 7-8 putaran. Tanpa alas kaki, dan tanpa berhenti. Katanya orang2, itu baik untuk proses melahirkan.

2 kali putaran aku menemani mengelilingi lapangan bola itu. Putaran ke-3 aku berhenti, dia tetap lanjut berjalan. Mungkin 6 putaran baru dia berhenti, lalu istirahat sebentar.

Masih jam setengah delapan, kita mampir ke pasar Bunul, gak jauh dari lapangan Rampal. Belanja sayur, bumbu dan beberapa ikan.

Sampai rumah, istirahat sebentar lalu memasak sama2. Lalu makan sama2. Setelah makan, minum jus apukat sama2.

Lihat jam, "mmm...masih jam 10". Aku suruh dia istirahat, baring2 di tempat tidur. Kita ngobrol sana2i, hingga sempat tertidur.

Jam 12an, istriku terbangun karena hp-nya bunyi. Ternyata temannya, yang juga temanku, sebut saja Hudriah, menelpon. Temanku itu, terkejut karena istriku masih tenang2 saja di rumah. Dia langsung menyuruh untuk cepat2 pergi ke rumah sakit, jangan menunggu benar2 sakit baru berangkat. Terlalu beresiko. "Lagian kamu itu kan gak bisa naik mobil" begitu katanya.

"Sana cepat berangkat, mumpung belum sakit!" perintah temanku itu, tegas.

Aku bergegas berkemas, dan berangkat ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit, hanya duduk2 saja, hanya menunggu dan menunggu.

Tepat jam 5 sore, istriku mulai mengeluh sakit. "Kayaknya ini sudah waktunya" pikirku. Istriku bergegas masuk di ruang perawatan. Beberapa perawat mulai berdatangan. Aku masih berdiri di samping istriku.

Bagusnya rumah sakit ini, justru mengharuskan suami menemani istrinya selama proses melahirkan, dari awal hingga akhir. Secara medis pasti-lah ada penjelasan ilmiah-nya kenapa harus begitu. Lagian, aku yg memasukkan benih, masak aku gak boleh terlibat dalam proses mengeluarkan?

Aku lihat beberapa perawat berlalu lalang menyiapkan perlengkapan persalinan. Aku perhatikan gerak2iknya, lincah sekali. Sepertinya mereka sudah sering menangani persalinan.

Beberapa kali istriku merintih kesakitan, menggenggam tanganku. Tapi kulihat para perawat masih tenang2 saja. "Sabar bu ya, belum waktunya" kata seorang perawat.

Aku mulai gelisah karena pasien di sebelah terus berteriak2 dan sepertinya meronta2. Aku terbayang2 apa yg sebenarnya terjadi di ruang sebelah itu. Hebohnya pasien itu bikin pasien yg lain merinding. Aku gak tau kenapa dia tidak memilih operasi  saja daripada heboh begitu.

Tidak lama, tiba2 tidak ada lagi suara pasien itu. Hening. Lamat2 kudengar, bayinya sudah lahir. Kembar!

Lalu istriku tiba2 merintih lagi. Aku panggil perawat. Dengan sigap perawat melakukan penanganan. Satu perawat siaga di depan 'pintu keluar', 2 perawat melakukan dorongan dari perut, lalu 1 perawat siaga dengan beberapa perlengkapan persalinan.

Si perawat terus memberikan semangat istriku agar kuat mendorong bayi bisa keluar.

"Ayo bu" kata salah satu perawat, "terus dorong bu. Dorong terus"

Kulihat istriku sudah berusaha mendorong sekuat tenaga. Keringatnya mengalir di dahi dan ujung hidungnya. Matanya memerah. Aku hanya melongo, pura2 tenang agar istriku gak tambah tegang.

Usaha yg keras istriku itu tetap saja dianggap kurang oleh para perawat itu. Dicoba beberapa posisi, tetap saja tidak berhasil.

Perawat2 itu terus memberikan semangat. Aku juga begitu. Salah satu perawat bilang "bukan begitu bu cara dorongnya. Bukan begitu!"

Kulihat istriku hampir putus asa, tidak tahu lagi bagaimana cara mendorong yg benar. Padahal dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk mendorong agar bayi bisa keluar.

Di tengah2 kehebohan itu, ada sms masuk di hp istriku, sms dari kerabat di Kendari. Dia mengabarkan ada saudara yg baru saja meninggal dunia ketika melahirkan.

Tentu saja, maksudnya baik, ingin mengabarkan kabar duka. Tapi maksud yg baik kalo disampaikan di saat yg tidak tepat, dampaknya bisa tidak baik. Tidak pikir panjang, langsung kumatikan hp istriku itu.

"Ayo bu" kata perawat, "dorong terus bu, sudah hampir keluar. Itu kepalanya sudah terlihat. Ayo dorong bu. Ibu apa gak kasihan itu bayinya sudah mau keluar. Dorong terus!"

Untuk meyakinkan istriku, aku disuruh perawat itu untuk melihat kalau bayinya benar2 sudah hampir keluar. Benar! Aku sudah melihat ujung kepalanya.

Aku semakin semangat untuk memberikan semangat. Kubisikkan istriku "sudah hampir keluar, aku sudah lihat kepalanya"

Entah karena bisikanku itu atau tidak, istriku semakin semangat mendorong. Tangannya semakin kuat menggenggam tanganku. Tapi tetap saja gagal.

"Ayo bu dorong terus. Kasihan bu bayinya!"

Aku gak tau apa maksud perawat itu bilang begitu terus, apa dikira istriku tidak berusaha?

Seorang perawat berbisik dengan perawat yang lainnya, membisikkan tentang posisi bayi yg menurutnya nggak wajar. Sepertinya istriku mendengar pembicaraan perawat itu. Istriku sempat down mendengar pembicaraan itu.

Lalu datang seorang perawat membawa suatu alat, mirip USG. Di tempelkan alat itu di perut istriku, lalu terdengar suara "dug...dug...dug". Suaranya terdengar jelas, dengan nada yg semakin melemah.

"Itu suara jantung bayinya pak, semakin lemah"

Istriku kelihatan semakin panik mendengar penjelasan itu. Kemudian, dia lepas selang oksigen di hidungnya, lalu dia menghirup napas dalam2, mengumpulkan tenaga sebanyak2nya. Lalu berusaha mendorong. Tapi gagal lagi, gagal lagi.

Kulihat beberapa perawat juga mulai panik, dan putus asa. Istriku juga mulai menyerah "operasi aja ya..." bisik istriku.

Tapi ada satu perawat yg keras kepala, namanya Ari. Dia tetap berusaha memberikan arahan agar istriku mendorong dengan benar. Dia tidak menyalahkan istriku, seperti perawat yg lain. Dia hanya memberikan arahan bagaimana mendorong yg benar.

Aku sudah mulai berpikir persalinan operasi. Tapi perawat yg satu itu tetap keras kepala.

Mbak Ari terus sibuk memberikan arahan. Aku hanya bisa komat2it. Aku baca apa saja yg bisa aku baca. Kulihat istriku terus berusaha, walaupun kutahu dia telah kelelahan.

Seorang perawat di belakang berbisik dengan perawat lainnya, "kalo sampai jam 9 belum keluar, operasi saja". Aku bisa mendengar bisikan itu.

Waktu terus berjalan. Sedikit2 aku lihat jam di dinding. Jam 9 hanya kurang beberapa menit saja. Tangan istriku semakin dingin, tapi dia tidak menyerah.

Persis jam 9, akhirnya yg ditunggu2 datang juga. "Cepluk", begitu kira2 bunyi anakku melompat dari rahim istriku. Badannya berlumuran cairan ketuban. Kulihat tali pusarnya masih menempel di perutnya.

Lega!!

Seorang perawat dengan sigap memasukkan selang ke mulut anakku. Perawat yg lain sudah siap dengan handuk untuk anakku. Lalu dia membawanya ke ruangan yg lain untuk dibersihkan.

Kulihat istriku terbaring lemas. Tatapannya sendu, namun masih bisa menjawab obrolan Mbak Ari yg sedang membereskan perlengkapan persalinan.

Aku kehilangan kata2. Perasaanku seperti diaduk2. Aku keluar dari ruang persalinan, dengan mata sembab, lalu menangis tersedu2 di luar ruangan. Entah, aku menangis karena apa. Aku menangis saja, tanpa alasan.

Tidak lama kemudian, datang seorang perawat menggendong bayi berselimut kain biru. Itu kain biru yg aku bawa dari rumah. "Itu pasti anakku!" pikirku.

"Pak saiful" kata perawat itu, "ini bayinya, silahkan kalau mau di-adzan-i"

Kugendong bayi itu. Lalu kubisikkan adzan di telinga kanannya. Dia hanya terdiam. Sambil adzan, kuperhatikan mukanya, nggak tau dia mirip siapa. Ah... nggak penting dia mirip siapa. Yg penting dia sehat, ibunya juga sehat.

Sebelum kukembalikan ke perawat yg menungguiku, temanku, sebut saja Ning, sempat mengambil gambar anakku pakai kamera di hp-nya.

Lalu, aku kembali masuk ke ruangan menemani istriku di dalam yg masih ditangani seorang perawat. Dia masih terbaring lemas. Aku tersenyum, dia juga tersenyum.



Komentar

  1. ihhh.... mas ipul namaku mana? aku kan ikut terlibat!!! sampe2 meninggalkan 2 mata kuliah.... Adohhh... gk disebut sy ingka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh uli, aku malah baru tau kamu ninggalin kuliah gara2 itu. Kan aku lama di dalam, jd aku kurang tau kamu ngapain aja di luar...

      Yg aku ingat, kamu yg paksa sandy belajar berdiri. He..he..

      Hapus

Posting Komentar