Aktivis Plastik

Sebut saja namanya Wawan, seorang aktivis lingkungan hidup, yg mengambil spesialisasi tentang sampah. Lebih khusus lagi tentang masalah sampah plastik. Dari pertama aku tahu dia, yg diurusin cuman urusan sampah plastik.

Aku suka dengan model aktivis seperti ini, aktivis yg mengkhususkan pada satu isu yg sangat spesifik. Aktivis spesialis begini, biasanya memiliki kedalaman analisa dan totalitas dalam beraktivis.

Diet kantong plastik adalah tagline yg selalu dibawa wawan kemana2. Diet kantong plastik, kata Wawan, merupakan upaya untuk mengurangi daya rusak plastik pada alam.

Menolak sama sekali penggunaan plastik itu tidak realistis, katanya lagi. Mangkanya, penggunaan plastik harus dikurangi. Dengan ini: diet kantong plastik.



Tapi menurutku ada diet lain yg lebih perlu dilakukan, yaitu diet konsumtif!

Plastik, apalagi kantong plastik, sebenarnya hanya imbas dari budaya konsumtif. Budaya konsumtif memang selalu haus dengan kemasan dan kepraktisan. Dan plastik adalah jawabannya.

Produsen plastik tidak bisa disalahkan dgn membludaknya plastik. Mereka hanya mengikuti kebutuhan budaya konsumtif yg bersahabat dengan plastik. Yg perlu disalahkan adalah budaya konsumtif.

Aku pernah iseng lewat pintu belakang Royal Plaza. Aku lihat tumpukan kantong2 sampah. Amit2 banyaknya. Bertumpuk2. Sekilas terlihat di dalamnya ada piring, gelas, sendok, garpu, sedotan, bungkus makanan, macem2 lah. Semuanya terbuat dari plastik (dan streofoam). Kantong sampahnya juga dari plastik.

Kalau diet kantong plastik berhasil dilakukan, kayaknya Wawan masih perlu bikin banyak tagline: diet piring plastik, diet sendok plastik, diet garpu plastik, diet sedotan plastik, dan seterusnya.

Betapa sibuknya Wawan. Karena ternyata persoalan limbah plastik bukan cuman kantong plastik, tapi juga piring plastik, sendok plastik, garpu plastik, sedotan plastik, kemasan plastik, dst. Juga stereofoam.

Akar masalahnya, tentu saja, budaya konsumtif. 

Wawan tidak bisa berjuang sendirian melawan budaya konsumtif. Perlu ribuan aktivis lain yg mau mengambil peran yg berbeda dengan spesialisasi masing2 untuk mengepung konsumtifitas.

Saya sendiri sudah tidak lg jadi aktivis kayak Wawan, karena saya sudah pensiun jadi aktivis. Kini saya jadi pasivis. 

Ngaku jadi pasivis itu jauh lebih baik daripada pura2 jadi aktivis padahal plastikivis!

Komentar