Korupsi Di Warung Kopi

Seorang menteri olah raga telah ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus korupsi sport center Hambalang. Banyak yg mengapresiasi penetapan tersangka tersebut, namun banyak juga yg bilang itu terlambat.

Terlambat karena sudah lama beberapa orang telah menengarai keterlibatan sang menteri. Namun KPK dianggap ragu2 menindak sang menteri yg berasal dari partai biru milik pak presiden.

Analisa2 itu berkembang begitu luas, hingga menjadi obrolan di warung2 kopi giras yg belakangan banyak tersebar di sudut2 perkampungan.

Sebagian orang2 itu memberikan analisa hukum sedemikian rupa agar kelihatan sangat benar. Di situlah ajang kontes perbacotan. Bagus2an membacot.

Tapi setelah bacot sana bacot sini, semakin kentara kalo mereka sekedar mencomot analisa2 dari koran, katanya 'katanya'. Ada juga yg berusaha mengganthok2kan beberapa keterangan orang2 sakit hati. Bahkan ada yg hanya berdasarkan kicauan @TrioMacan2000!

Selebihnya, pintar2nya dia mengolah kata, merangkai kalimat. Sambil sesekali mengernyitkan dahi dan men'dekhem' agar kelihatan meyakinkan.

Aku termasuk orang yg sering tercengang mendengar analisa2 orang itu, terlebih analisa2 itu dibumbui dengan teori2 konspirasi kelas atas yg bahkan melibatkan presiden.

Sebagai sebuah analisa politik, hal itu sah2 saja. Lagipula, bukankah analisa politik memang tidak harus benar? yg penting bombastis!

Masalahnya menganalisa kasus hukum yg dibumbui dgn analisa politik seringkali melahirkan analisa yg tendensius nan lebay.

Tentu aku gak ada urusan untuk membela atau ikut mencela sang menteri, tapi aku sangat meyakini bahwa memahami kasus hukum tidak bisa dilakukan atas dasar pemberitaan di koran, radio, TV, atau news online, apalagi berdasarkan kicauan @TrioMacan2000.

Fakta hukum itu tersebar di tumpukan dokumen2 dan bukti2 lainnya. Aku meyakini menangkap fakta2 dari bukti2 itu adalah bukan pekerjaan gampang.

Bahkan penegak hukum-pun banyak yg gagal menarik sebuah kesimpulan hukum meski bertumpuk2 bukti tersedia di meja. Ada yg karena persoalan teknis, ada juga yg gagal karena masuk angin!

Namun jauh di luar itu, aku bersyukur bahwa banyak orang yg kini telah memiliki sense of belonging terhadap nasib uang rakyat, sehingga mereka merasa berhak untuk memberikan analisa2nya (hukum, politik atau campuran hukum dan politik) yg lebih mirip vonis itu.

Pada titik itulah aku memahami bahwa analisa hukum di warung2 kopi giras itu boleh tendensius nan lebay!

Komentar