KOMENTATOR BOLA DAN PENGAMAT POLITIK

Tiba-tiba Saya terganggu dengan seorang komentator bola yang hampir setiap minggu disiarkan secara langsung di stasiun TV swasta, yang sangat lihai mengomentari setiap gerak-gerik pemain di sepanjang pertandingan. Komentator beberapa kali menyalahkan strategi permainan yang tak kunjung mencetak gol. Alih-alih mencetak gol, tim itu malah kebobolan. Setiap gerak-gerik pemain bola, ketika membawa bola atau tidak sedang membawa bola, semua bisa dikomentari.

Dari komentar-komentarnya, seolah-olah ia bisa bermain bola sehebat Ricardo Kaka atau mengerti betul strategi sepak bola melebihi Pep Guardiola. Lalu kenapa dia tidak masuk Timnas saja? Jika ia bisa sehebat komentarnya, Saya yakin Indonesia bisa menang telak melawan Timnas Spanyol sekalipun.

Ketika Saya mengeluh tentang hal ini, teman sebelah langsung nyeletuk “namanya juga komentator!!”. Saya langsung terdiam tidak nyaman. Teman sebelah langsung tersenyum, merayakan kemenangannya telah mematahkan keluhan Saya.

Keluhan Saya itu sama persis ketika Saya menyaksikan berita-berita nasional, khususnya yang berkaitan dengan politik. Saya heran melihat pengamat politik yang nyaris setiap hari ada saja kritik-kritiknya terhadap pemerintah dengan ribuan argumentasi-argumentasi hebat yang mampu menghanyutkan alam pikir pemirsa TV untuk turut serta menyudutkan pemerintah.

Lihatlah gaya mereka, perhatikan mimik tubuh, serak suaranya dan kernyit dahinya. Gaya itulah yang memberikan efek kebenaran terhadap apa yang mereka sampaikan. Asalkan lihai menampilkan gaya itu, sepertinya tidak penting lagi untuk mempertanyakan kebenaran argumentasi kritisnya.

Sampai Saya terpikir tidak pernahkah pemerintah melakukan hal yang benar dan baik untuk rakyatnya? Saya pikir, meskipun sedikit, pastilah ada. Lalu, apakah itu bukan bagian yang perlu diamati oleh pengamat itu.

Langsung saja, teman sebelah kembali nyeletuk “namanya juga pengamat politik!!”. Saya hanya terdiam tidak nyaman. Teman sebelah lagi-lagi tersenyum, merayakan kemenangannya.

Bukan kali itu saja teman sebelah mengalahkan dan mematahkan Saya. Tapi sesungguhnya Saya tidak merasa terlalu kalah, karena sebenarnya Saya memendam banyak jawaban yang Saya yakin bisa memukul balik argumen teman sebelah itu, hanya saja Saya tidak pintar bercakap. Saya hanya memendamnya.

---------------

Tentang sepakbola, Saya membayangkan perlu ada sebuahresearch yang meneliti dengan metode indepth interview dan menarik sebuah content analysis terhadap setiap hasil dataresponden selected. Dalam bahasa sederhananya, ngobrol-ngobrol ke para pemain bola, yang timnya selalu kalah. Pasti mereka akan mengatakan bahwa mereka sama sekali tidak menginginkan dan tidak merencanakan untuk kalah.

Tentu mereka telah berjuang dengan sungguh-sungguh, menjalankan setiap instruksi dari pelatih. Teknik permainan yang ditunjukkan di lapangan adalah hasil dari latihan-latihan yang selama ini mereka jalani.

Begitu juga tim lawan. Mereka juga telah berjuang dengan sungguh-sungguh, menjalankan setiap instruksi dari pelatih. Teknik permainan yang ditunjukkan di lapangan adalah hasil dari latihan-latihan yang selama ini mereka jalani. Tapi bedanya, mereka berhasil mencetak gol lebih banyak. Itu saja.

Bahwa setiap permainan selalu mengandung gaya, teknik dan strategi permainan yang bisa dibilang tidak menjamin 100% menjadikan sebuah tim pasti menang, karena gol hanya sebagian kecil dari keseluruhan permainan yang terkadang sangat bergantung dengan seorang dewi yang bernama fortuna, alias keberuntungan.

Bahkan banyak yang menghubung-hubungkan sebuah gol dengan hari kelahiran atau weton pemain, nomor punggung, zodiak pelatih, arah angin, warna kostum, fengshui lapangan hingga merek bola.

Bagi Saya, tugas pemain adalah hanya bermain dengan sebaik-baiknya, mengembangkan permainan, melakukan improvisasi-improvisasi, berani merebut, menguasai, mengoper dan mengeksekusi bola setepat mungkin. Hasilnya, serahkan pada Tuhan. Jika gol mari bersorak, jika tidak gol ayo coba lagi. Itu saja.

Proses itulah yang mestinya dihargai, jangan hanya gara-gara tidak gol lalu menyalahkan pemain mengumpat pelatih dengan komentar-komentar yang seolah-olah ia lebih lihai dari Lionel Messi dan lebih jago dari Cristiano Ronaldo.

-------------

Ada beberapa orang yang dulu berkarir menjadi pengamat politik, begitu vokal berbicara tentang sebuah sistem kenegaraan, hak azasi manusia dan korupsi. Namun begitu Ia direkrut dan menjadi bagian dari pemerintah, ternyata tidak banyak yang berhasil menerapkan teori-teorinya dengan baik. Bahkan beberapa dari mereka malah berujung pada jeruji besi.

Sebaliknya, ada beberapa orang yang terbukti gagal ketika ia menjadi bagian dari pemerintah, kemudian ia berpindah jalur karir menjadi pengamat politik, tiba-tiba menjadi orang yang sangat pintar dan kritis.

Model pengamat politik yang seperti ini biasanya kurang bisa diterima publik. Meskipun ia piawai memainkan mimik tubuh, serak suaranya dan kernyit dahinya. Efek kebenarannya hanya dapat diterima oleh sanak keluarga dan beberapa kerabatnya, sedangkan publik hanya menangkap efek kebenaran mimik tubuh, serak suara dan kernyit dahinya sebagai omong kosong.

Tapi, apapun yang dikatakan pengamat politik tentang pemerintah, sesungguhnya tidak perlu diambil hati, karena seperti yang Saya bilang sebelumnya, mereka hanya akan memberikan komentar terhadap hal-hal yang menurut mereka negatif dan dalam perspektif yang selalu negatif pula.

Sebaliknya, jangan juga terlalu percaya dengan juru bicara atau kaki tangan pemerintah. Tentu saja mereka akan selalu mengatakan hal-hal yang positif saja. Mereka juga akan memainkan mimik tubuh, serak suara dan kernyit dahi untuk meyakinkan publik atas prestasi-prestasi pemerintah.

Apapun yang dikatakan juru bicara atau kaki tangan pemerintah, sesungguhnya juga tidak perlu diambil hati. Jangan hanya karena sudah apatis dengan pengamat politik lalu Anda percaya sepenuhnya dengan juru bicara atau kaki tangan pemerintah.

Lalu siapa yang mesti dipercaya? bagaimana menilai pemerintah?

Jangan seperti Anda menilai sepak bola! Kali ini Anda harus mengamati langsung di pasar-pasar tradisional, pangkalan becak, terminal, warung kopi, pasar malam, pos kamling dan tempat-tempat kumuh lainnya. Di sanalah Anda akan mengetahu skor kinerja pemerintah sebenarnya

Kali ini Anda harus melihat berapa gol yang bisa dilesakkan pemerintah untuk rakyat kebanyakan. Rakyat kebanyakan tidak terlalu peduli dengan upaya-upaya yang pemerintah lakukan.

Rakyat tidak terlalu peduli dengan gocekan-gocekan, gerakan akrobatik dan umpan-umpan manis pemerintah, jika tidak tercipta gol, upaya-upaya itu dianggap omong kosong. Bagi mereka yang terpenting adalah harga sembako, harga bensin, biaya sekolah dan biaya kesehatan dapat dijangkau dengan penghasilan mereka yang mungil.

Seperti sekarang ini, rakyat kebanyakan lelah melihat gaya permainan pemerintah yang terlalu lama bergocek-gocek di lapangan belakang dan tengah, umpan sana-umpan sini dan melompat sana-sini. Pada saat kebobolan, mereka sibuk saling menyalahkan, menyalahkan pemain belakang, mengumpat kiper, mencela kapten dan menghujat pelatih, bahkan penonton pun ikut disalah-salahkan. Pada saat yang bersamaan, gol kembali bersarang di gawang pemerintah, yang entah sudah berapa kali bersarang.

Komentar